Jemput Siswa LPMAK di Bandara Samrat

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengenal Asrama (SMA) Lokon Resort

Asrama ke 4 adalah asrama yang berada di Lokn Resort yang tidak menyatu dengan Kampus Losnito.

Mencicipi Daging Bakar Ala Papua

Daging bakar ini mirip Bakar Batu, tradisi Papua untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau asal Papua.

Jelajah Desa Taratara, Woloan, Kayawu

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Video Siswa Matrikulasi di Taratara

Pengenalan Wilayah, program rutin bagi siswa-siswi Matrikulasi dari LPMAK.Kalai ini desa Wailan, Kayawu, Tara-tara dan Woloan yang dikunjungi.

Tampilkan postingan dengan label asrama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asrama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 September 2013

4 Siswa Kelas XI

TOMOHON, Losnito - Siswa kelas XI ada empat orang yang berada di Asrama Lokon Resort.
  1. Hendy Jamang
  2. Kristian Balinol
  3. Molio Mom
  4. Socrates Fatie 

Rabu, 25 September 2013

Siswa Matrikulasi 2013



TOMOHON, Losnito - Inilah ke 14 siswa matrikulasi tahun jaran 2013/2014




  1. Andreanus Onowame  
  2. Banianus Jamawe
  3. Dominikus Feneturuma               
  4. Edgard Magal
  5. Eltianus Kiwak  
  6. Emanuel Pogalamun
  7. Hengky R. Omabak
  8. Kornelius Beanal
  9. Melianus JM
  10. Samuel M Pigai
  11. Samuel Romy Kora
  12. Thomianus Diwitau
  13. Yosep Meraweyau
  14. Yosias Jangkup









           


  



Sabtu, 10 Agustus 2013

Rasa Daging Bakar Ala Papua

Proses Pembakaran Daging

TOMOHON, Losnito - Sederhana dan jauh dari cita rasa modern, seperti Fried Chicken atau steak bakar, itulah kesan saya terhadap daging bakar yang dimasak ala Papua Barat. Kali ini saya diajak bukan untuk “bakar batu” atau makan Papeda, kuliner khas Papua. Tetapi saya diajak untuk bakar-bakar di kebun. Katanya ini tradisi mereka untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau di tahun ajaran baru ini.
Asap putih mulai mengepul ke udara. Bara api bakaran kayu sudah mulai kelihatan. Batang dan rating kayu yang mereka kumpulkan mulai dibakar. Sementara yang beli bahan makanan belum datang, milu (jagung) mulai ditaruh di atas ranting di antara semburat api kayu itu. Tanpa mengupas pelepahnya jagung langsung ditaruh begitu saja di antara perapian yang membara.

Di sekitar pembakaran itu, saya hitung ada 30 siswa Papua. Tak semua sibuk “memasak” di dekat pembakaran. Ada yang berteduh di semak-semak dan pohon perdu berlindung dari sengatan matahari pagi. Saya sempat bertanya, mengapa yang perempuan tak ikut memasak sepertinya itu tugas laki-laki. Samuael Kora menjawab, “Itu tradisi kami Pak. Laki-laki yang cari kayu bakar dan bikin api dan sekaligus bertugas memasaknya. Perempuan biasanya kasih bersih itu makanan sebelum dibakar”.

Metin Tsunawatme dan satu temannya datang membawa bahan-bahan yang dibakar. Saya lihat dia bawa daging babi, empat ekor ayam, kentang, dan ubi-ubian seperti ketela pohon, ubi jalar dan ubi talas keladi. Tak lama kemudian temannya memotong-motong daging itu dan mengupas ayam hingga bersih. Setelah diserahkan ke teman perempuan untuk dibersihkan di sungai terdekat. Bumbu termasuk rica-rica dimasukkan di bekas botol mineral lalu ditumbuk.

Jarum jam beranjak menuju ke angka dua belas. Satu lagi perabian dibuat. Perapian ini khusus untuk membakar daging ayam dan babi. Mereka buat dengan sederhana. Kayu-kayu yang masih basah dipasang di atas perapian membentuk alat pemanggang. Di atas kayu basah itu semua daging ditaruh dan di bawahnya perapian terus dijaga hingga membara.
Untuk mempercepat proses matang, daging-daging yang sementara dibakar di atas bara, diolesi dengan mentega. Sesekali saya melihat Metin mengusapnya dengan bumbu yang dibuat. Tak beberpa lama dari proses itu, daging bakar sudah siap disajikan.

Proses penyajiannya menurut saya unik. Mereka berteriak dengan bahasa yang tidak saya mengerti tetapi saya pahami sebagai tanda untuk berkumpul dan mendekat dengan daging dan ubi yang sudah siap dimasak. Lalu mereka disuruh berkelompok, makanan nanti dibagi berdasarkan kelompok secara merata.

Mereka menyuruh saya untuk memimpin doa makan. Saya iyakan saja. Setelah doa, makanan dibagi dan mereka menyantapnya sesuai dengan yang sudah dibagi. Uniknya tak ada kelompok yang protes karena makanan yang kurang. Dalam hal makan mereka tidak saling berebut.
Saya dan teman pembina juga mendapat jatah makan yang lumayan besar porsinya. Dua potong ubi keladi, dua jagung bakar, dan setengah potong daging ayam utuh dan masing-masing segelas air mineral untuk minum.

Bagaimana rasa daging bakar itu? Rasanya adalah sederhana tetapi rasa paguyubannya, serta persaudaraan di antara mereka di tanah rantau, cukup membanggakan. Begitulah sebuah kearifan lokal yang terus disemai di mana pun mereka berada. Karena itu jangan heran kalau mereka suka makan pinang. Katanya buat gigi kuat dan menyembuhkan sakit gigi.


Semua bahan makanan dan minuman mereka beli dengan model “baku sumbang”. Siang itu mereka habiskan 7 kg daging babi, 4 ekor ayam, dua dus aqua gelas, satu karung jagung dan satu karung ubi-ubian, dan setengah botol bumbu rica.

Senin, 29 Juli 2013

Pengurus Asrama Lokon Resting


Senin, 29 Juli 2013, pukul 21.30 diadakan pemilihan pengurus siswa-siswa yang berada di asrama Lokon Resting.

Jumlah pemilih 39 orang, dengan catatan satu orang kembali ke Tembagapura karena kakaknya telah dipanggil Tuhan.

Hasil pemilihan sebagai berikut:
  1. Iko : 8 suara (Ketua)
  2. Hendy Jamang : 7 suara (Wakil)
  3. Molio : 6 suara
  4. Lenis : 6 suara

Pengurus Asrama Lokon Resort 2013

Ketua : Iko IB
Wakil : Hendy Jamang
Sekretaris : Moliu Mom
Bendahara : Lenis Jawame

  • Seksi Kerohanian: Otto Tsunme
  • Seksi Kebersihan : Elianus Bubaleng
  • Seksi Konsumsi : Metin Tsenawame
  • Seksi Kesehatan : Andreas Onoame
  • Seksi Olahraga : Natan Omabak
  • Seksi Saranaprasarana; Tommi Magal
Kamar 1
  1. Thomy Magal (Tutor)
  2. Apriton Komangal
  3. Otto Tsunme
  4. Jhony Kibak
  5. Christian Balinol
  6. Emanuel Pogolamun
 Kamar 2
  1. Amianus Tsugumol (Tutor)
  2. Yosias Jangkup 
  3. Elianus Kiwak
  4. Melianus J. M
  5. Thomy Diwitau
Kamar 3
  1. Nopinus Magal (Tutor)
  2. Samuel Rommy Koro
  3. Andreanus Onawame
  4. Hengky R Omabak
  5. Kornelius Beanal
Kamar 4
  1. Iko Charles B Wamang (Tutor)
  2. Samuel M Pigai
  3. Yosep Meraweyau
  4. Edgard Magal
  5. Dominikus Feneturuma
 Kamar 5
  1. Metin Tsenawatme (Tutor)
  2. Beni Beanal
  3. Kertinus Bukaleng
  4. Lenniz Yau
  5. Elianus Bukaleng
  6. Freddy Beanal
Kamar 6
  1. Yohanes Mipitepo (Tutor)
  2. Natan Omabak
  3. Perimus Omaleng
  4. Jerinus Beanal
  5. Natanael Natkime
  6. Felix Weyau
Kamar 7
  1. Hendy Jamang (Tutor)
  2. Molio Mom
  3. Socrates Fatih
  4. Alexander Manueti
 Tomohon, 1 Agustus 2013