Jemput Siswa LPMAK di Bandara Samrat

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengenal Asrama (SMA) Lokon Resort

Asrama ke 4 adalah asrama yang berada di Lokn Resort yang tidak menyatu dengan Kampus Losnito.

Mencicipi Daging Bakar Ala Papua

Daging bakar ini mirip Bakar Batu, tradisi Papua untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau asal Papua.

Jelajah Desa Taratara, Woloan, Kayawu

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Video Siswa Matrikulasi di Taratara

Pengenalan Wilayah, program rutin bagi siswa-siswi Matrikulasi dari LPMAK.Kalai ini desa Wailan, Kayawu, Tara-tara dan Woloan yang dikunjungi.

Tampilkan postingan dengan label tomohon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tomohon. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Rasa Daging Bakar Ala Papua

Proses Pembakaran Daging

TOMOHON, Losnito - Sederhana dan jauh dari cita rasa modern, seperti Fried Chicken atau steak bakar, itulah kesan saya terhadap daging bakar yang dimasak ala Papua Barat. Kali ini saya diajak bukan untuk “bakar batu” atau makan Papeda, kuliner khas Papua. Tetapi saya diajak untuk bakar-bakar di kebun. Katanya ini tradisi mereka untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau di tahun ajaran baru ini.
Asap putih mulai mengepul ke udara. Bara api bakaran kayu sudah mulai kelihatan. Batang dan rating kayu yang mereka kumpulkan mulai dibakar. Sementara yang beli bahan makanan belum datang, milu (jagung) mulai ditaruh di atas ranting di antara semburat api kayu itu. Tanpa mengupas pelepahnya jagung langsung ditaruh begitu saja di antara perapian yang membara.

Di sekitar pembakaran itu, saya hitung ada 30 siswa Papua. Tak semua sibuk “memasak” di dekat pembakaran. Ada yang berteduh di semak-semak dan pohon perdu berlindung dari sengatan matahari pagi. Saya sempat bertanya, mengapa yang perempuan tak ikut memasak sepertinya itu tugas laki-laki. Samuael Kora menjawab, “Itu tradisi kami Pak. Laki-laki yang cari kayu bakar dan bikin api dan sekaligus bertugas memasaknya. Perempuan biasanya kasih bersih itu makanan sebelum dibakar”.

Metin Tsunawatme dan satu temannya datang membawa bahan-bahan yang dibakar. Saya lihat dia bawa daging babi, empat ekor ayam, kentang, dan ubi-ubian seperti ketela pohon, ubi jalar dan ubi talas keladi. Tak lama kemudian temannya memotong-motong daging itu dan mengupas ayam hingga bersih. Setelah diserahkan ke teman perempuan untuk dibersihkan di sungai terdekat. Bumbu termasuk rica-rica dimasukkan di bekas botol mineral lalu ditumbuk.

Jarum jam beranjak menuju ke angka dua belas. Satu lagi perabian dibuat. Perapian ini khusus untuk membakar daging ayam dan babi. Mereka buat dengan sederhana. Kayu-kayu yang masih basah dipasang di atas perapian membentuk alat pemanggang. Di atas kayu basah itu semua daging ditaruh dan di bawahnya perapian terus dijaga hingga membara.
Untuk mempercepat proses matang, daging-daging yang sementara dibakar di atas bara, diolesi dengan mentega. Sesekali saya melihat Metin mengusapnya dengan bumbu yang dibuat. Tak beberpa lama dari proses itu, daging bakar sudah siap disajikan.

Proses penyajiannya menurut saya unik. Mereka berteriak dengan bahasa yang tidak saya mengerti tetapi saya pahami sebagai tanda untuk berkumpul dan mendekat dengan daging dan ubi yang sudah siap dimasak. Lalu mereka disuruh berkelompok, makanan nanti dibagi berdasarkan kelompok secara merata.

Mereka menyuruh saya untuk memimpin doa makan. Saya iyakan saja. Setelah doa, makanan dibagi dan mereka menyantapnya sesuai dengan yang sudah dibagi. Uniknya tak ada kelompok yang protes karena makanan yang kurang. Dalam hal makan mereka tidak saling berebut.
Saya dan teman pembina juga mendapat jatah makan yang lumayan besar porsinya. Dua potong ubi keladi, dua jagung bakar, dan setengah potong daging ayam utuh dan masing-masing segelas air mineral untuk minum.

Bagaimana rasa daging bakar itu? Rasanya adalah sederhana tetapi rasa paguyubannya, serta persaudaraan di antara mereka di tanah rantau, cukup membanggakan. Begitulah sebuah kearifan lokal yang terus disemai di mana pun mereka berada. Karena itu jangan heran kalau mereka suka makan pinang. Katanya buat gigi kuat dan menyembuhkan sakit gigi.


Semua bahan makanan dan minuman mereka beli dengan model “baku sumbang”. Siang itu mereka habiskan 7 kg daging babi, 4 ekor ayam, dua dus aqua gelas, satu karung jagung dan satu karung ubi-ubian, dan setengah botol bumbu rica.

Minggu, 28 Juli 2013

Welcome to Kampus LOSNITO, Siswa-siswa LPMAK




TOMOHON, Losnito - Dua bus Pariwisata LIMBERS berkapasitas 29 seats, siang itu (29/7) meluncur dari Kampus Losnito Tomohon menuju ke Bandara Sam Ratulangi. Cuaca yang sedikit berawan tak menghalangi semangat dan kegembiraan kami untuk sambut kedatangan para siswa baru dari Timika. Di belakang bus, ada satu mobil sekolah yang ditumpangi oleh Bp. Max Imbang, Kepala Sekolah SMA Lokon.

"Berapa siswa yang nanti kita jemput?" tanya Yorel, pengemudi bus warna biru itu. "Ada 20 siswa untuk SMA Lokon dan 26 siswa untuk SMP Lokon" jawab Jimmy Pontoan yang menjadi contact person Yayasan Pendidikan Lokon.

Setibanya kami di Bandara Sam Ratulangi, kami masih menunggu informasi kedatangan pesawat Merpati yang membawa mereka dari Timika. Board Information sempat error, tapi samar-samar masih tertera jam kedatangan pesawat berkode MZ ini. Pukul 14.45 wita, menurut jadwalnya mendarat di bandara.



"So mendarat dorang" kata Mom, kakak kelas mereka. "Tapi kok lama mereka keluar ya? Napa itu mereka baru keluar" ujar saya yang siap merekam kedatangan mereka dengan kamera dan video.

Identitas para siswa dan pendamping dari Timika LPMAK, tampak menyolok. Mengenakan kaos merah kombinasi biru, bertuliskan LPMAK, satu pesatu keluar dari ruang kedatangan. Langsung mereka disambut oleh rombongan Losnito, yang terdiri dari Kepsek SMA, Asrama SMA, Asrama SMP, guru-guru dan siswa-siswa LPMAK yang sudah setahun dua tahun belajar di Losnito.

Kegembiraan dan keriuhan mewarnai penyambutan di bandara. Wajah-wajah kelelahan dari para siswa LPMAK yang baru saja mendarat, begitu menyolok. Sambil menarik koper-kopernya masing-masing mereka menuju ke dua bus pariwisata yang sudah stand by sejak tadi.



Setelah semua dipastikan sudah masuk ke dua armada bus, lalu kami pelan-pelan meninggalkan bandara Sam Ratulangi Manado. Sepanjang perjalanan banyak mereka yang bertanya ini sampai mana dan di mana. Pertanyaan itu dijawab oleh Bapak Tri melalui mikrofon yang ada di bus.

"Kalau lurus ke sana ke kota Manado, Tapi kita belok kiri melalui jalan ke Bitung. Di pertigaan ujung jalan Citraland, kita lalu ke kanan. Oh ya sebentar di Citraland ada Patung raksasa Yesus memberkati. Jangan lupa berdoa saat melewati. Silahkan berdoa supaya diberkati untuk berhasil dalam study selama di Kampus Losnito" ujar Pak Tri memberi semangat kepada para siswa yang menumpang satu bus. Entah di bus lain.



Perjalanan menuju ke Tomohon lancar tanpa hambatan kemacetan. Sesuai dengan rencana, semua berhenti di Empung Jaya Restoran di Tinoor untuk makan malam. Kami pesan sebanyak 70 pax paket makanan. Tak urung restoran ini dipenuhi oleh kami. Setelah makanan tersedia, kami kemudian menyantapnya dengan sukacita.

Hari semakin gelap ketika kami meninggalkan Empung Jaya untuk melanjutkan ke Lokon. Dua bus bergerak diikuti oleh mobilnya Kepsek dan mobilnya para pendamping LPMAK.

Setibanya di Kompleks Sekolah Lokon, rombongan dibagi dua. Yang SMA mengadakan serah terima di Guest house, asrama putri. Kepsek Max Imbang menandatangani bersama Ibu Yuliana.


Sementara di asrama SMP Lokon yang berada disebelah, para siswa Timika langsung disambut oleh anak-anak asrama SMP yang telah lama datang lebih dahulu. Suasana ramai dan riuh menghangatkan penyambutan di asrama smp.

"Apakah adik-adik senang menerima teman-teman baru dari Timika?" tanya Jimmy P kepada siswa-siswa yang lama sudah tinggal di asrama. "Senangggggg" jawab serentak mereka. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengenalan singkat. Berita acara, serah terima penyerahan siswa dari LPMAK ke Yayasan Lokon juga dilaksanakan di malam itu.

"Selamat datang para siswa LPMAK ke kampus Losnito. Selamat belajar!"