Jemput Siswa LPMAK di Bandara Samrat

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengenal Asrama (SMA) Lokon Resort

Asrama ke 4 adalah asrama yang berada di Lokn Resort yang tidak menyatu dengan Kampus Losnito.

Mencicipi Daging Bakar Ala Papua

Daging bakar ini mirip Bakar Batu, tradisi Papua untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau asal Papua.

Jelajah Desa Taratara, Woloan, Kayawu

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Video Siswa Matrikulasi di Taratara

Pengenalan Wilayah, program rutin bagi siswa-siswi Matrikulasi dari LPMAK.Kalai ini desa Wailan, Kayawu, Tara-tara dan Woloan yang dikunjungi.

Tampilkan postingan dengan label losnito. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label losnito. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 September 2013

Asal Usul Suku Kamoro

Tulisan ini disalin dari tutur kata siswa Matrikulasi yang bercerita tentang asal usul suku Kamoro. Setelah dicek, rupanya cerita itu sama dengan yang disalinulang oleh Stefanus Rahangiar (1995), yaitu salah seorang peneliti yang mengemukakan bahwa orang Kamoro berasal dari komodo yang terletak di sungai Binar di bagian Timur daerah Mimika. 

Cerita ini bermula dari, ditemukannya sebutir telur oleh seorang anak kecil di tepi pantai. Kemudian sianak membawa kerumahnya. Telur tersebut tidak dimasak, tidak juga dirusak, malahan sianak menyimpan dan merawatnya. Selang beberapa hari kemudian telur tersebut menetas. Tetasan tersebut adalah seekor Komodo . Hari kehari, komodo tersebut bertumbuh dan lama-kelaman menjadi besar dan dewasa. Komodo yang besar tersebut, diluar dugaan memakan seluruh penduduk dikampung tersebut, yang tersisa hanya seorang ibu yang tengah hamil. 

Setelah penduduk itu habis dimakan, Komodo itu beristirahat di sebuah pulau dekat Sungai Binar. Pada saat itu, Ibu tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang segera tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa. Di sini anak tersebut mendengar cerita dari Ibunya tentang kejadian yang menimpa keluarganya. Maka timbul niat dari anak ini untuk balas dendam. Ibu itu bernama Mbirokateya sedangkan anaknya bernama Mbirokateyau. 


Dalam upaya membunuh hewan Komodo, Mbirokateyau mendapat petunjuk dari para leluhurnya lewat mimpi. Mimpi ini mulai dijalankannya dengan mendirikan empat buah rumah berturut-turut, dari arah tepi pantai ke bagian darat. Rumah pertama(Kewa Kame), rumah kedua(Tauri Kame), rumah ketiga(Kaware Kame) dan rumah keempat(Ema Kame). 

Rumah keempat ditempati oleh Ibunya dan rumah pertama ditempati oleh sianak ini sambil memukul tifa dan bernyanyi seakan-akan sedang berpesta. Hal ini dilakukan untuk memberi perhatian kepada Komodo tersebut, yang menyangka bahwa tidak ada manusia lagi disekitarnya. Situasi ini mengundang Komodo ini menyerang rumah tersebut. Saat hewan itu memporak-porandakan rumah, maka peralatan yang digunakan untuk menghujani tubuh hewanlah yang telah menyelamatkan sianak dari rumah kedua sampai rumah keempat, dan akhirnya Komodo ini mati terimpa alat-alat perang.

Kemudian si anak memotong dagingnya menjadi empat bagian dengan ukuran yang sama besar dan melemparkannya ke empat penjuru mata angin. Lemparan pertama kebagian Timur sambil berkata Umuru we yang kemudian dipercaya telah menjadi orang Asmat di Merauke. Lemparan kedua diarahkan kebagian Barat sambil berkata Kamoro we dan akhirnya tercipta manusia suku Kamoro. Lemparan ketiga ke arah Utara yang akhirnya tercipta orang pegunungan dan lemparan keempat diarahkan ke bagian Selatan sambil berkata Semopano we, yang akhirnya menjadi suku Sempan di Timika.

Diceritakan oleh siswa-siswa Matrikulasi SMA Lokon, yaitu Adreanus Onowane, Samuel Kora, Yosep Meraweyau, Angela Amisin. 

Sabtu, 10 Agustus 2013

Rasa Daging Bakar Ala Papua

Proses Pembakaran Daging

TOMOHON, Losnito - Sederhana dan jauh dari cita rasa modern, seperti Fried Chicken atau steak bakar, itulah kesan saya terhadap daging bakar yang dimasak ala Papua Barat. Kali ini saya diajak bukan untuk “bakar batu” atau makan Papeda, kuliner khas Papua. Tetapi saya diajak untuk bakar-bakar di kebun. Katanya ini tradisi mereka untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau di tahun ajaran baru ini.
Asap putih mulai mengepul ke udara. Bara api bakaran kayu sudah mulai kelihatan. Batang dan rating kayu yang mereka kumpulkan mulai dibakar. Sementara yang beli bahan makanan belum datang, milu (jagung) mulai ditaruh di atas ranting di antara semburat api kayu itu. Tanpa mengupas pelepahnya jagung langsung ditaruh begitu saja di antara perapian yang membara.

Di sekitar pembakaran itu, saya hitung ada 30 siswa Papua. Tak semua sibuk “memasak” di dekat pembakaran. Ada yang berteduh di semak-semak dan pohon perdu berlindung dari sengatan matahari pagi. Saya sempat bertanya, mengapa yang perempuan tak ikut memasak sepertinya itu tugas laki-laki. Samuael Kora menjawab, “Itu tradisi kami Pak. Laki-laki yang cari kayu bakar dan bikin api dan sekaligus bertugas memasaknya. Perempuan biasanya kasih bersih itu makanan sebelum dibakar”.

Metin Tsunawatme dan satu temannya datang membawa bahan-bahan yang dibakar. Saya lihat dia bawa daging babi, empat ekor ayam, kentang, dan ubi-ubian seperti ketela pohon, ubi jalar dan ubi talas keladi. Tak lama kemudian temannya memotong-motong daging itu dan mengupas ayam hingga bersih. Setelah diserahkan ke teman perempuan untuk dibersihkan di sungai terdekat. Bumbu termasuk rica-rica dimasukkan di bekas botol mineral lalu ditumbuk.

Jarum jam beranjak menuju ke angka dua belas. Satu lagi perabian dibuat. Perapian ini khusus untuk membakar daging ayam dan babi. Mereka buat dengan sederhana. Kayu-kayu yang masih basah dipasang di atas perapian membentuk alat pemanggang. Di atas kayu basah itu semua daging ditaruh dan di bawahnya perapian terus dijaga hingga membara.
Untuk mempercepat proses matang, daging-daging yang sementara dibakar di atas bara, diolesi dengan mentega. Sesekali saya melihat Metin mengusapnya dengan bumbu yang dibuat. Tak beberpa lama dari proses itu, daging bakar sudah siap disajikan.

Proses penyajiannya menurut saya unik. Mereka berteriak dengan bahasa yang tidak saya mengerti tetapi saya pahami sebagai tanda untuk berkumpul dan mendekat dengan daging dan ubi yang sudah siap dimasak. Lalu mereka disuruh berkelompok, makanan nanti dibagi berdasarkan kelompok secara merata.

Mereka menyuruh saya untuk memimpin doa makan. Saya iyakan saja. Setelah doa, makanan dibagi dan mereka menyantapnya sesuai dengan yang sudah dibagi. Uniknya tak ada kelompok yang protes karena makanan yang kurang. Dalam hal makan mereka tidak saling berebut.
Saya dan teman pembina juga mendapat jatah makan yang lumayan besar porsinya. Dua potong ubi keladi, dua jagung bakar, dan setengah potong daging ayam utuh dan masing-masing segelas air mineral untuk minum.

Bagaimana rasa daging bakar itu? Rasanya adalah sederhana tetapi rasa paguyubannya, serta persaudaraan di antara mereka di tanah rantau, cukup membanggakan. Begitulah sebuah kearifan lokal yang terus disemai di mana pun mereka berada. Karena itu jangan heran kalau mereka suka makan pinang. Katanya buat gigi kuat dan menyembuhkan sakit gigi.


Semua bahan makanan dan minuman mereka beli dengan model “baku sumbang”. Siang itu mereka habiskan 7 kg daging babi, 4 ekor ayam, dua dus aqua gelas, satu karung jagung dan satu karung ubi-ubian, dan setengah botol bumbu rica.

Jumat, 02 Agustus 2013

Video Siswa Matrikulasi di Taratara

Siswa Matrikulasi Menelusuri Desa-desa



Jumat pagi (1/8), semua siswa SMA Lokon berbaris membentuk formasi huruf U. Pembina Apel pagi ini disampaikan oleh Wakasek Kesiswaan. Salah satu informasi ditujukan bagi siswa-siswi Matrikulasi.

"Hari ini ada acara pengenalan wilayah buat mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk memumpuk rasa memiliki dengan cara berjalan kaki menelusuri jalan mulai dari Kampus lalu menuju ke Wailan, tembus ke Tara-tara dan kemudian menuju ke Woloan dan dari Woloan lalu ke Kakaskasen dan kembali ke kampus Losnito"


Informasi disambut dengan sukacita oleh ke 19 siswa (satu ada yang sakit) Matrikulasi yang datang dari LPMAK Timika dan YPJ Tembagapura. Mereka adalah siswa-siswi penerima bea siswa dari Freeport.





Start dimulai dari depan Lobby. Para siswa di dampingi oleh Pak Eldad Tambun, Pak Stephanus Poluan, Pak Angelo Pontoh, Pak Nouvry Mokuan, Pak Hanny Tuerah, Pak Karel Konjongian dan Pak Tri Nugroho (Pembina Asrama Lokon Resort).

Sebelum mulai melangkahkan kaki menuju ke kampung-kampung terdekat, diadakan foto bersama di muka pintu gerbang. Tulisan SMA Lokon St. Nikolaus menjadi background foto bersama.



Tampak para siswa memanfaatkan untuk foto-foto melalui HP di sepanjang perjalanan. Ketika ada objek foto yang menarik, flash kamera tak hentinya menyala. Kenangan jalan-jalan masuk ke kampung menjadi bukti tersendiri.

"Selamat pagi Pak, Selamat pagi bu. Selamat pagi adek" adalah suara-suara yang meluncur begitu biasa untuk menyapa masyarakat. Sepanjang perjalanan selain keceriaan tanpa lelah, para siswa mencoba mempratekkan semboyan 5 S. Yaitu, Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Satun kepada siapa saja yang dijumpai.

Budaya Lima S ini adalah budaya yang dikembangkan dalam mewujudnyatakan Kurikulum Berbasis Kehidupan.


Langkah kaki para siswa dan pendamping sudah melewati desa Wailan dan kini menuju ke Kayawu. Sejenak mereka berhenti di patung tokoh Lokon. Dengan gayanya yang khas masyarakat Papua, mereka beraksi di depan kamera yang dipegang oleh Pak Tri. Seru. Di sebelah jalan dari patun ini terdapat Gua Jepang. Sayang kami tidak diperbolehkan masuk karena sedang ada pengerjaan renovasi.

Memasuki desa Taratara, kendatangan rombongan kami sempah membuah heboh seluruh SD Negeri. Mereka berlarian keluar "seolah-olah" menyambut kedatangan kami dengan teriakan sukacita. Beberapa siswa tak kalah menanggapi sambutan anak-anak SD dengan tangan "toast" satu sama lain. Keramahan dan keriuhan itu tak luput dari jepretan kamera dan video. Untuk melihat videonya silahkan KLIK DI SINI.


"Hosha-hosha" terdengar suara dari pendamping yang artinya capek nih. Lalu kami istirahat di Gerea St, Padua Tara-tara untuk beberapa menit menghilang capek kami.

"Setelah ini kita jalan ke mana?" tanya Andre, salah siswa yang bertubuh kecil tapi lincah. "Belok kanan lalu ke atas ke desa Woloan" jawab pak Eldad. Setelah itu, Pak Eldad menghubungi driver sekolah supaya makan siang di antar di Pastoran Gereja Bunda Hati Kudus Woloan.

Dari Taratara menuju ke Woloan diwarnai dengan trekking yang menantang. Selepan jembatan kecil, jalan terus menanjak melewati persawahan yang indah. Suasana persawahan yang hijau menghibur hati dari kelelahan yang mulai lagi menggantung di kaki. Tapi para siswa ketika ditanya "capek nggak", selalu jawab "ah tidak Bapa".


Akhirnya kami tiba di pastoran Woloan. Kaki-kaki mulai dilemaskan dengan cara duduk dan kaki diselonjorkan dengan gerakan-gerakan kecil untuk melemaskan otot-otot. Tak lama kemudian makan siang tiba. Dan kami pun menyantapnya dengan lahap.



Setelah makan siang, jalan kaki dilanjutkan menuju ke arah jalan turun yang tembus ke Kayawu dan akhirnya satu bus menjemputnya dan kembali ke asrama Lokon dan asrama Lokon Resort.

Minggu, 28 Juli 2013

Losnito 2013: Jemput Siswa LPMAK di Bandara


Jumat, 26 Juli 2013, pihak Yayasan Pendidikan Lokon yang diwakili oleh Kepsek SMA Lokon, SMP Lokon, Asrama Lokon dan siswa-siswa LPMAK yang sudah lebih dahulu sekolah di SMA Lokon menyambut kedatangan 20 siswa baru Timika untuk SMA Lokon dan 26 siswa Timika untuk SMP Lokon .




Welcome to Kampus LOSNITO, Siswa-siswa LPMAK




TOMOHON, Losnito - Dua bus Pariwisata LIMBERS berkapasitas 29 seats, siang itu (29/7) meluncur dari Kampus Losnito Tomohon menuju ke Bandara Sam Ratulangi. Cuaca yang sedikit berawan tak menghalangi semangat dan kegembiraan kami untuk sambut kedatangan para siswa baru dari Timika. Di belakang bus, ada satu mobil sekolah yang ditumpangi oleh Bp. Max Imbang, Kepala Sekolah SMA Lokon.

"Berapa siswa yang nanti kita jemput?" tanya Yorel, pengemudi bus warna biru itu. "Ada 20 siswa untuk SMA Lokon dan 26 siswa untuk SMP Lokon" jawab Jimmy Pontoan yang menjadi contact person Yayasan Pendidikan Lokon.

Setibanya kami di Bandara Sam Ratulangi, kami masih menunggu informasi kedatangan pesawat Merpati yang membawa mereka dari Timika. Board Information sempat error, tapi samar-samar masih tertera jam kedatangan pesawat berkode MZ ini. Pukul 14.45 wita, menurut jadwalnya mendarat di bandara.



"So mendarat dorang" kata Mom, kakak kelas mereka. "Tapi kok lama mereka keluar ya? Napa itu mereka baru keluar" ujar saya yang siap merekam kedatangan mereka dengan kamera dan video.

Identitas para siswa dan pendamping dari Timika LPMAK, tampak menyolok. Mengenakan kaos merah kombinasi biru, bertuliskan LPMAK, satu pesatu keluar dari ruang kedatangan. Langsung mereka disambut oleh rombongan Losnito, yang terdiri dari Kepsek SMA, Asrama SMA, Asrama SMP, guru-guru dan siswa-siswa LPMAK yang sudah setahun dua tahun belajar di Losnito.

Kegembiraan dan keriuhan mewarnai penyambutan di bandara. Wajah-wajah kelelahan dari para siswa LPMAK yang baru saja mendarat, begitu menyolok. Sambil menarik koper-kopernya masing-masing mereka menuju ke dua bus pariwisata yang sudah stand by sejak tadi.



Setelah semua dipastikan sudah masuk ke dua armada bus, lalu kami pelan-pelan meninggalkan bandara Sam Ratulangi Manado. Sepanjang perjalanan banyak mereka yang bertanya ini sampai mana dan di mana. Pertanyaan itu dijawab oleh Bapak Tri melalui mikrofon yang ada di bus.

"Kalau lurus ke sana ke kota Manado, Tapi kita belok kiri melalui jalan ke Bitung. Di pertigaan ujung jalan Citraland, kita lalu ke kanan. Oh ya sebentar di Citraland ada Patung raksasa Yesus memberkati. Jangan lupa berdoa saat melewati. Silahkan berdoa supaya diberkati untuk berhasil dalam study selama di Kampus Losnito" ujar Pak Tri memberi semangat kepada para siswa yang menumpang satu bus. Entah di bus lain.



Perjalanan menuju ke Tomohon lancar tanpa hambatan kemacetan. Sesuai dengan rencana, semua berhenti di Empung Jaya Restoran di Tinoor untuk makan malam. Kami pesan sebanyak 70 pax paket makanan. Tak urung restoran ini dipenuhi oleh kami. Setelah makanan tersedia, kami kemudian menyantapnya dengan sukacita.

Hari semakin gelap ketika kami meninggalkan Empung Jaya untuk melanjutkan ke Lokon. Dua bus bergerak diikuti oleh mobilnya Kepsek dan mobilnya para pendamping LPMAK.

Setibanya di Kompleks Sekolah Lokon, rombongan dibagi dua. Yang SMA mengadakan serah terima di Guest house, asrama putri. Kepsek Max Imbang menandatangani bersama Ibu Yuliana.


Sementara di asrama SMP Lokon yang berada disebelah, para siswa Timika langsung disambut oleh anak-anak asrama SMP yang telah lama datang lebih dahulu. Suasana ramai dan riuh menghangatkan penyambutan di asrama smp.

"Apakah adik-adik senang menerima teman-teman baru dari Timika?" tanya Jimmy P kepada siswa-siswa yang lama sudah tinggal di asrama. "Senangggggg" jawab serentak mereka. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengenalan singkat. Berita acara, serah terima penyerahan siswa dari LPMAK ke Yayasan Lokon juga dilaksanakan di malam itu.

"Selamat datang para siswa LPMAK ke kampus Losnito. Selamat belajar!"