Jemput Siswa LPMAK di Bandara Samrat
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Mengenal Asrama (SMA) Lokon Resort
Asrama ke 4 adalah asrama yang berada di Lokn Resort yang tidak menyatu dengan Kampus Losnito.
Mencicipi Daging Bakar Ala Papua
Daging bakar ini mirip Bakar Batu, tradisi Papua untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau asal Papua.
Jelajah Desa Taratara, Woloan, Kayawu
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Video Siswa Matrikulasi di Taratara
Pengenalan Wilayah, program rutin bagi siswa-siswi Matrikulasi dari LPMAK.Kalai ini desa Wailan, Kayawu, Tara-tara dan Woloan yang dikunjungi.
Rabu, 25 September 2013
Segar Bugar Dengan Bangun Pagi 04.45
TOMOHON, Losnito - Matahari mulai merekah merah di ufuk Timur, persis di balik Gunung Mahawu. Meski lampu taman dan teras masih menyala. aktivitas Asrama Lokon Resort sudah berjalan. Burung-burung pun mulai terdengar bernyanyi dari tempat peraduannya semalam yaitu di balik pohon bunga Bougenville. Nyanyian burung di pagi hari itu juga terdengar dari pohon mangga, pohon pinus dan pohon pinang merah yang ada di sekeliling Asrama Lokon Resort (ALR).
Jarum jam sudah menunjuk di angka 04.45 wita. Itu tandanya bel berbunyi untuk membangunkan seluruh penghuni di ALR yang berada tak jauh dari Gunung Lokon.
"Selamat pagi. Good Morning. Guten Morgen. How are you today?" terdengar suara Bapak Deny Tuela sambil membangunkan 37 siswa yang menempati 7 kamar. "Mari olah raga pagi bersama, supaya sehat dan dinginnya pagi tak lagi membelenggu badan. Olah raga demi kesehatan badan" ujar Bapak Deny tak henti-hentinya membangunkan para siswa.
Berbagai macam reaksi siswa saat dibangunkan akan terdengar merdu dan menatang untuk tetap dibangunkan. Lokasi ALR yang berada di kaki Gunung Lokon Tomohon memang membuat udara di pagi sejuk, namun bagi yang tak terbiasa akan merasa dingin. Ini yang kadang menjadi alasan mengapa susah bangun tepat pada waktunya.
"Ayo lari satu putaran dulu baru tanda tangan kehadiran di buku" perintah Bapak Deny terhadap beberapa siswa yang sudah siap mau berolahraga pagi.
Absen Olah raga pagi adalah kewajiban setiap siswa untuk memastikan siapa-siapa yang sudah bangun pagi dan siap pergi ke sekolah. Tak hanya itu, pamong atau pembina asrama juga langsung mendapatkan informasi tentang siapa-siapa yang memang sakit. Apabila ada siswa yang tidak absen olah raga pagi tetapi bukan karena sakit, akan mendapatkan teguran atau sanksi. Bentuk teguran akan disampaikan pada waktu apel malam nanti.
Yang menarik dari kegiatan bangun dan kemudian dilanjutkan dengan olah raga pagi adalah penanaman nilai-nilai keteladan antara senior dan yunior. Memang kadang ada senior yang terlambat bangun atau karen alasan tertentu tidak bisa bangun cepat, namun kejadian ini membuat citra senior menjadi kurang baik di mata yunior.
Mengapa mereka bangun pagi 04.45 wita dan wajib berolahraga pagi? Jawabannya sederhana. Sejak SMA Lokon bediri 2002, bangun pagi dan olah raga pagi selain sudah menjadi aturan baku asrama juga tak sedikit yang merasakan betapa kebiasaan bangun pagi itu menyehatkan dan membuat badan siap untuk beraktivitas selanjutnya dengan segar.
Reaksi para siswa saat dibangunkan memang bermacam-macam. Selain nyaman karena masih ngantuk di tambah udara dingin juga ada yang jelas-jelas malas bangun. Hari-hari yang rawan malas bangun, biasanya hari Senin.
Mengapa hari Senin? Karena hari Minggu biasanya diisi dengan kegiatan yang santai seperti ambulasi, olah raga atau nonton TV. Beberapa siswa ada yang pergi untuk ibadat Minggu di gereja-gereja di sekitar Asrama.Suasana Minggu yang santai inilah yang secara psikologis membuat orang malas dan menggunakan waktu sepuas-puasnya untuk kesenangan pribadi. Karena itu, ketika memasuki kegiatan rutin di Seninnya, mereka merasa segar karena ada beban untuk belajar dan belajar.
Salah satu anggota Badan Pengurus LPMAK pernah memotivasi siswa-siswa penerima beasiswa ini dengan mengatakan, "Jika kamu tidak berubah, kamu sudah mati. Tak ada kemajuan tanpa perubahan. Dan yang bisa mengubah nasib itu bukan waktu bukan orang lain tetapi nasib akan diubah oleh diri sendiri. Karena itu, hargailah waktu dengan sebaik-baiknya dan jadilah siswa yang produktif yang siap berpartisipasi membangun daerah dengan lebih baik".
Bangun pagi dan olah raga pagi adalah aturan asrama yang sudah terbukti membuat siswa terbiasa dengan pola hidup sehat yang merupakan bagian dari kecerdasan fisik yang menyehatkan badan. Tak hanya itu, bangun pagi dna olah raga termasuk dalam pembentuk karakter siswa.
Jarum jam sudah menunjuk di angka 04.45 wita. Itu tandanya bel berbunyi untuk membangunkan seluruh penghuni di ALR yang berada tak jauh dari Gunung Lokon.
"Selamat pagi. Good Morning. Guten Morgen. How are you today?" terdengar suara Bapak Deny Tuela sambil membangunkan 37 siswa yang menempati 7 kamar. "Mari olah raga pagi bersama, supaya sehat dan dinginnya pagi tak lagi membelenggu badan. Olah raga demi kesehatan badan" ujar Bapak Deny tak henti-hentinya membangunkan para siswa.
Berbagai macam reaksi siswa saat dibangunkan akan terdengar merdu dan menatang untuk tetap dibangunkan. Lokasi ALR yang berada di kaki Gunung Lokon Tomohon memang membuat udara di pagi sejuk, namun bagi yang tak terbiasa akan merasa dingin. Ini yang kadang menjadi alasan mengapa susah bangun tepat pada waktunya.
"Ayo lari satu putaran dulu baru tanda tangan kehadiran di buku" perintah Bapak Deny terhadap beberapa siswa yang sudah siap mau berolahraga pagi.
Absen Olah raga pagi adalah kewajiban setiap siswa untuk memastikan siapa-siapa yang sudah bangun pagi dan siap pergi ke sekolah. Tak hanya itu, pamong atau pembina asrama juga langsung mendapatkan informasi tentang siapa-siapa yang memang sakit. Apabila ada siswa yang tidak absen olah raga pagi tetapi bukan karena sakit, akan mendapatkan teguran atau sanksi. Bentuk teguran akan disampaikan pada waktu apel malam nanti.
Yang menarik dari kegiatan bangun dan kemudian dilanjutkan dengan olah raga pagi adalah penanaman nilai-nilai keteladan antara senior dan yunior. Memang kadang ada senior yang terlambat bangun atau karen alasan tertentu tidak bisa bangun cepat, namun kejadian ini membuat citra senior menjadi kurang baik di mata yunior.
Mengapa mereka bangun pagi 04.45 wita dan wajib berolahraga pagi? Jawabannya sederhana. Sejak SMA Lokon bediri 2002, bangun pagi dan olah raga pagi selain sudah menjadi aturan baku asrama juga tak sedikit yang merasakan betapa kebiasaan bangun pagi itu menyehatkan dan membuat badan siap untuk beraktivitas selanjutnya dengan segar.
Reaksi para siswa saat dibangunkan memang bermacam-macam. Selain nyaman karena masih ngantuk di tambah udara dingin juga ada yang jelas-jelas malas bangun. Hari-hari yang rawan malas bangun, biasanya hari Senin.
Mengapa hari Senin? Karena hari Minggu biasanya diisi dengan kegiatan yang santai seperti ambulasi, olah raga atau nonton TV. Beberapa siswa ada yang pergi untuk ibadat Minggu di gereja-gereja di sekitar Asrama.Suasana Minggu yang santai inilah yang secara psikologis membuat orang malas dan menggunakan waktu sepuas-puasnya untuk kesenangan pribadi. Karena itu, ketika memasuki kegiatan rutin di Seninnya, mereka merasa segar karena ada beban untuk belajar dan belajar.
Salah satu anggota Badan Pengurus LPMAK pernah memotivasi siswa-siswa penerima beasiswa ini dengan mengatakan, "Jika kamu tidak berubah, kamu sudah mati. Tak ada kemajuan tanpa perubahan. Dan yang bisa mengubah nasib itu bukan waktu bukan orang lain tetapi nasib akan diubah oleh diri sendiri. Karena itu, hargailah waktu dengan sebaik-baiknya dan jadilah siswa yang produktif yang siap berpartisipasi membangun daerah dengan lebih baik".
Bangun pagi dan olah raga pagi adalah aturan asrama yang sudah terbukti membuat siswa terbiasa dengan pola hidup sehat yang merupakan bagian dari kecerdasan fisik yang menyehatkan badan. Tak hanya itu, bangun pagi dna olah raga termasuk dalam pembentuk karakter siswa.
Selasa, 24 September 2013
If You Don't Change, You Died
TOMOHON, Losnito - Siang itu, langit di sekitar Gunung Lokon cerah dan
terasa menghangat di badan. Sesudah makan siang, tiga bus biru meluncur ke Kalasey,
Manado. Dua bus membawa para siswa SMA Lokon dan satu bus membawa khusus untuk
siswa SMP.
Dengan masih menggunakan seragam OSIS, 72 siswa SMA dan 26 siswa SMP Lokon beserta beberapa guru dan pembina asrama, menuju ke
Manado untuk mengikuti pertemuan dengan Badan Pengurus LPMAK yang datang untuk
mengadakan monitoring dan evaluasi terhadap para penerima beasiswa LPMAK.
“Maksud dan tujuan Monitoring BP LPMAK terhadap
para penerima beasiswa LPMAK baik yang berada di Jawa, Manado dan Papua (Papua
Barat), yaitu, ingin mengetahui keberadaan para penerima beasiswa yang dikirim
oleh Sekretaris Eksekutif. Setiap tahun sesuai dengan rencana kerja BP LMPAK
diadakan monitoring dan evaluasi baik secara dekat maupun jauh. Hari ini
dilaksanakan secara dekat untuk mengecek apakah benar siswa yang dikirim ke
kota studi itu benar adanya dan benar jumlahnya dan apa yang dirasakan oleh
para penerima beasiswa dalam proses kegiatan belajar dan mengajar” kata Bp.
Emanuel Kemong membuka acara itu di aula Resto Banda Kalasey, Manado Senin 23
September 2013 pukul 16.00 wita.
Pak Titus Kemong, menyampaikan di depan pengurus dan
penerima bea siswa bahwa sampai sekarang ini di kota studi manado tercatat, “13
mahasiswa Unima (calon-calon guru), 22 mahasiswa UNSRAT, 20 mahasiswa Unklab,
40 mahasiswa Unika De Lasalle, 72 siswa SMA Lokon, 26 siswaSMP Lokon, 34 siswa
SMA Advent Tompaso dan peserta umum 12 mashasiswa”. Kalau dijumlah semuanya
menjadi 329 siswa. Dan sebentar lagi ada tambahan 14 siswa yang masuk SMP
Lokon.
Dari jumlah itu, pengiriman siswa SMP baru terjadi pada
tahun ini. Ke depan program SMP ini akan terus berlanjut hingga suatu saat
tidak perlu lagi mengirim siswa tingkat SMA lagi dengan alasan sudah ada siswa
yang lulus dari SMP.
Badan Pengurus LPMAK yaang hadir dalam pertemuan itu adalah Bp. Yohanes, Bp. Ferry Robot, Bp. Emanuel Kemong, Bp. Titus Kemong, Bp. Abraham Timang, dan Bp. Yohanes Lesubun, Sekretaris Bapeda Serta MC Fabian Magal.
Bapak UYohanes Lesubun (52 th), menyelesaikan SMP di Kokonao, lalu
sekolah SPG di Jayapura, dengan bea siswa Keuskupan melanjutkan diploma musik
di Yogyakarta. Setelah lulus diploma, lalu tugas di Wamena untuk mendampingi
masyarakat dan menjadi guru. Sambil mengajar, beliau menjadi mahasiswa Universitas
Terbuka hingga 1996 di wisuda di Jakarta. Setelah wisiuda lalu menjadi kepala
sub pendidikan dasar di P dan K. Setelah 30 tahun di Wamena kemudian minta
pindah ke Mimika ke kampung halaman. Sambil bekerja, beliau mengikuti
pendidikan S2 di Universitas Cendrawasih, Jayapura untuk meraih gelar Magister
Managemen Pendidikan. Dan lulus.
Dalam memotivasi para penerima bea siswa, beliau mengatakan bahwa (1)
If you
don’t change, you die. Apabila anda tidak berubah, anda sudah mati. Berubah
bagian dari kehidupan, tak ada kemajuan tanpa perubahan.
(2) Orang yang berhenti belajar, dia pemilik masa lalu. Orang yang terus belajar adalah pemilik masa depan. Tak ada pintu lain selain belajar. Waktu tidak berubah nasib, yang merubah nasib adalah diri kita sendiri.
Ingat, para siswa mempunyai tanggung jawab berat untuk
membangun daerah sendiri dengan cara menjadi siswa-siswa yang produktif. Dari
laporan dari berbagai kota studi, tak sedikit para siswa yang prioritasnya bias
atau berimbasnya prioritas diri ke mana-mana karena pengaruh pergaulan. Ini
dipengaruhi oleh lingkungan dan teman pergaulannya.
Lingkungan dan teman itu seperti cermin. Lihatlah wajahmu
dalam cermin itu. Sebaik-baiknya wajahmu, seganteng apapun atau secantik
apapun, kalau kau bercermin pada cermin yang rusak maka jadinya
bengkok-bengkok. Kau bisa rusak karena lingkungan dan pergaulan. Jika anda
gagal krena rusak diri dalam belajar maka betapa mahalnya untuk memperbaiki. Berapa
juta rupiah yang terbuang percuma karena ada siswa yang gagal dalam
menyelesaikan pendidikan.
Trilyunan rupiah sudah dikeluarkan untuk pendidikan setiap
tahun. Dan habis dalam waktu ima jam per hari dari jam 7 hingga jam 12. Lalu, 9
jam sisa menjadi ancaman bagi orang Papua. Kami kalah bukan karena akademi
tetapi kami kalah karena sistem. Generasi baru kita amankan selama 24 jam per
hari dengan ada yang bertanggungjawab dan dan mendampingi. Dan itulah yang
dilakukan oleh LPMAK.
Nasehat lain yang perlu diingat oleh dalam belajar, para
penerima bea siswa harus jalan terus sampai waktu habis dengan jelas. Kalau
lima tahun ya diselesaikan dengan lima tahun jangan diperpanjang. Kalau bisa
akselarasi, ya akselerasi untuk mempercepat waktu studi. Iangat, kita sudah capek ketinggalan dengan
yang lain maka selesaikan masa bekajar anda tepat pada waktunya karena
persaingan kerja bukan hanya dari Papua tetapi seluruh Indonesia.
Setelah tanya jawab, acara dilanjutkan dengan ramah tamah
dan setelah selesai lalu pulang.
Jumat, 06 September 2013
Asal Usul Suku Kamoro
Tulisan ini disalin dari tutur kata siswa Matrikulasi yang bercerita tentang asal usul suku Kamoro. Setelah dicek, rupanya cerita itu sama dengan yang disalinulang oleh Stefanus Rahangiar (1995), yaitu salah seorang peneliti yang mengemukakan bahwa orang Kamoro berasal dari komodo yang terletak di sungai Binar di bagian Timur daerah Mimika.
Cerita ini bermula dari, ditemukannya sebutir telur oleh seorang anak kecil di tepi pantai. Kemudian sianak membawa kerumahnya. Telur tersebut tidak dimasak, tidak juga dirusak, malahan sianak menyimpan dan merawatnya. Selang beberapa hari kemudian telur tersebut menetas. Tetasan tersebut adalah seekor Komodo . Hari kehari, komodo tersebut bertumbuh dan lama-kelaman menjadi besar dan dewasa. Komodo yang besar tersebut, diluar dugaan memakan seluruh penduduk dikampung tersebut, yang tersisa hanya seorang ibu yang tengah hamil.
Setelah penduduk itu habis dimakan, Komodo itu beristirahat di sebuah pulau dekat Sungai Binar. Pada saat itu, Ibu tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang segera tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa. Di sini anak tersebut mendengar cerita dari Ibunya tentang kejadian yang menimpa keluarganya. Maka timbul niat dari anak ini untuk balas dendam. Ibu itu bernama Mbirokateya sedangkan anaknya bernama Mbirokateyau.
Dalam upaya membunuh hewan Komodo, Mbirokateyau mendapat petunjuk dari para leluhurnya lewat mimpi. Mimpi ini mulai dijalankannya dengan mendirikan empat buah rumah berturut-turut, dari arah tepi pantai ke bagian darat. Rumah pertama(Kewa Kame), rumah kedua(Tauri Kame), rumah ketiga(Kaware Kame) dan rumah keempat(Ema Kame).
Rumah keempat ditempati oleh Ibunya dan rumah pertama ditempati oleh sianak ini sambil memukul tifa dan bernyanyi seakan-akan sedang berpesta. Hal ini dilakukan untuk memberi perhatian kepada Komodo tersebut, yang menyangka bahwa tidak ada manusia lagi disekitarnya. Situasi ini mengundang Komodo ini menyerang rumah tersebut. Saat hewan itu memporak-porandakan rumah, maka peralatan yang digunakan untuk menghujani tubuh hewanlah yang telah menyelamatkan sianak dari rumah kedua sampai rumah keempat, dan akhirnya Komodo ini mati terimpa alat-alat perang.
Kemudian si anak memotong dagingnya menjadi empat bagian dengan ukuran yang sama besar dan melemparkannya ke empat penjuru mata angin. Lemparan pertama kebagian Timur sambil berkata Umuru we yang kemudian dipercaya telah menjadi orang Asmat di Merauke. Lemparan kedua diarahkan kebagian Barat sambil berkata Kamoro we dan akhirnya tercipta manusia suku Kamoro. Lemparan ketiga ke arah Utara yang akhirnya tercipta orang pegunungan dan lemparan keempat diarahkan ke bagian Selatan sambil berkata Semopano we, yang akhirnya menjadi suku Sempan di Timika.
Diceritakan oleh siswa-siswa Matrikulasi SMA Lokon, yaitu Adreanus Onowane, Samuel Kora, Yosep Meraweyau, Angela Amisin.
Sabtu, 10 Agustus 2013
Rasa Daging Bakar Ala Papua
| Proses Pembakaran Daging |
TOMOHON, Losnito - Sederhana dan jauh dari cita rasa modern, seperti Fried Chicken atau steak bakar, itulah kesan saya terhadap daging bakar yang dimasak ala Papua Barat. Kali ini saya diajak bukan untuk “bakar batu” atau makan Papeda, kuliner khas Papua. Tetapi saya diajak untuk bakar-bakar di kebun. Katanya ini tradisi mereka untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau di tahun ajaran baru ini.
Asap putih mulai mengepul ke udara. Bara api bakaran kayu
sudah mulai kelihatan. Batang dan rating kayu yang mereka kumpulkan mulai dibakar.
Sementara yang beli bahan makanan belum datang, milu (jagung) mulai ditaruh di atas
ranting di antara semburat api kayu itu. Tanpa mengupas pelepahnya jagung langsung
ditaruh begitu saja di antara perapian yang membara.
Di sekitar pembakaran itu, saya hitung ada 30 siswa Papua. Tak semua sibuk “memasak” di dekat pembakaran. Ada yang berteduh di semak-semak dan pohon perdu berlindung dari sengatan matahari pagi. Saya sempat bertanya, mengapa yang perempuan tak ikut memasak sepertinya itu tugas laki-laki. Samuael Kora menjawab, “Itu tradisi kami Pak. Laki-laki yang cari kayu bakar dan bikin api dan sekaligus bertugas memasaknya. Perempuan biasanya kasih bersih itu makanan sebelum dibakar”.
Metin Tsunawatme dan satu temannya datang membawa bahan-bahan yang dibakar. Saya lihat dia bawa daging babi, empat ekor ayam, kentang, dan ubi-ubian seperti ketela pohon, ubi jalar dan ubi talas keladi. Tak lama kemudian temannya memotong-motong daging itu dan mengupas ayam hingga bersih. Setelah diserahkan ke teman perempuan untuk dibersihkan di sungai terdekat. Bumbu termasuk rica-rica dimasukkan di bekas botol mineral lalu ditumbuk.
Untuk mempercepat proses matang, daging-daging yang
sementara dibakar di atas bara, diolesi dengan mentega. Sesekali saya melihat
Metin mengusapnya dengan bumbu yang dibuat. Tak beberpa lama dari proses itu,
daging bakar sudah siap disajikan.
Bagaimana rasa daging bakar itu? Rasanya adalah sederhana
tetapi rasa paguyubannya, serta persaudaraan di antara mereka di tanah rantau,
cukup membanggakan. Begitulah sebuah kearifan lokal yang terus disemai di mana
pun mereka berada. Karena itu jangan heran kalau mereka suka makan pinang.
Katanya buat gigi kuat dan menyembuhkan sakit gigi.
Semua bahan makanan dan minuman mereka beli dengan model “baku sumbang”. Siang itu mereka habiskan 7 kg daging babi, 4 ekor ayam, dua dus aqua gelas, satu karung jagung dan satu karung ubi-ubian, dan setengah botol bumbu rica.
Minggu, 04 Agustus 2013
Tentang Suku Kamoro
TOMOHON, Losnito - Suku Kamoro adalah kelompok adat yang mendiami sepanjang 300 km pesisir selatan Papua, di kawasan ujung timur Indonesia. Dari segi bahasa, mereka bersaudara dengan suku Asmat yang tinggal di sebelah timur yang sangat terkenal karena kesenian mereka.
Jumlah penduduk Kamoro sekitar 18.000 jiwa terbagi dalam kurang lebih 40 kampung. Sekitar 1.500 penduduk Kamoro tinggal di berbagai lokasi transmigrasi sekitar Kota Timika. Penduduk Kamoro memiliki satu bahasa bersama dan berbagi banyak ciri kebudayaan. Tanah Kamoro dimulai dari Teluk Etna di sebelah barat dan menyatu ke arah timur di kawasan Sempan, sebuah kelompok etnis yang masih bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.
Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu.
Kontak pertama antara penduduk Kamoro dan dunia luar kemungkinan terjadi dengan para pedagang dari Indonesia bagian barat yang mencari kulit kayu massoy (banyak digunakan untuk obat tradisional Jawa), bulu burung cenderawasih, getah damar untuk bahan penerangan dan mencari budak. Sebagai alat tukar, digunakan perkakas logam, gong dan kain-kain. Perubahan besar-besaran pada suku Kamoro terjadi pada tahun 1925 ketika sebuah pos pemerintah kolonial Belanda dan misi Katolik Roma didirikan di Kokonau. Maka segera terjadilah pengendalian kekuasaan dan penduduk Kamoro dipaksa/dibujuk untuk meninggalkan beberapa aspek kehidupan adat mereka misalnya upacara tindik hidung (tidak higienis), lalu mereka tinggal dalam kampung-kampung permanen dimana terdapat sekolah-sekolah dan rumah-rumah untuk satu kepala keluarga (lebih mudah dikendalikan), serta pemindahan kepercayaan dari animisme hingga memeluk agama Katolik Roma. Namun, menyusupnya dunia modern tersebut membawa pula segi-segi positif.
kamoro 2Tersembunyi oleh zona bakau yang terkaya dan berlimpah di dunia, masyarakat Kamoro yang sebelumnya menjalani kehidupan yang semi-nomadis (mengembara), memindahkan milik mereka yang tak seberapa antara hutan-hutan pohon sagu (yang dimulai dari kawasan pedalaman terjauh pada zona arus pasang) dan kawasan penangkapan ikan yang amat berlimpah di dekat pantai. Walaupun ada desakan-desakan yang cukup kuat dari dunia luar, masyarakat suku Kamoro tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang semi-nomadis. Banyak sekali alasan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka di desa untuk beberapa hari atau beberapa minggu: akses terhadap basis kekayaan alam yang lebih luas, peluang-peluang untuk bergaul dengan teman dan saudara, tidak perlu tunduk pada perintah-perintah dan kegiatan rutin di desa dan bagi anak-anak, hal ini merupakan liburan yang menyenangkan dan tidak perlu sekolah.
Makanan pokok penduduk Kamoro adalah sagu yang dibuat dengan cara menebang pohon palem sagu, membelah intisari batang pohon dan menghanyutkan bagian sagu/karbohidrat yang murni dari serat-serat selulosa. Sementara hal ini merupakan kerja berat sesaat, namun tidak mengeluarkan tenaga seberat pembudidayaan selanjutnya, yaitu menjadikannya makanan siap-santap, baik dalam bentuk beras, gandum, jagung atau jenis biji-bijian lainnya.
Suku Kamoro juga suka berburu untuk mendapatkan makanan. Jenis hewan yang terutama diburu adalah babi liar, kasuari dan kuskus. Hewan lain termasuk ikan, buaya air tawar dan buaya laut, kadal bakau dan beragam jenis burung baik untuk dikonsumsi telur maupun dagingnya.
Tugas utama kaum wanita adalah menjamin agar ada cukup bahan makanan untuk tiap kali bersantap. Di samping makanan pokok sagu, tiap hari mereka mengayuh perahu lesung untuk mencari kayu bakar, udang dan moluska. Sejumlah besar gastropoda juga dikumpulkan untuk dimakan. Ada cukup banyak jenis krustasea (binatang berkulit keras) yang ditangkap, namun yang terutama adalah kepiting bakau untuk dikonsumsi di rumah serta untuk dijual.
Penduduk Kamoro bukan petani. Walau mereka telah diarahkan selama berpuluh-puluh tahun, makanan dari tumbuh-tumbuhan masih merupakan jumlah kecil bahan pangan mereka.
Sebagaimana halnya di Afrika, Oseania, di antara suku Dayak dan dimanapun, warga Kamoro mampu menghasilkan patung-patung yang sangat mengagumkan, benda-benda seni penuh ekspresi namun dengan garis-garis dan perkakas yang amat sangat sederhana. Jenis kesenian yang demikianlah yang memberi ilham kepada banyak pelukis modern, terutama para penganut aliran kubus dan terutama Pablo Picasso yang lukisan ternamanya Les Demoiselles D'Avignon menampilkan wujud-wujud wanita dengan dua wajahnya seperti topeng-topeng Afrika.
(Redaksi) bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.
Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu. (sumber: lpmak.org)
Jumlah penduduk Kamoro sekitar 18.000 jiwa terbagi dalam kurang lebih 40 kampung. Sekitar 1.500 penduduk Kamoro tinggal di berbagai lokasi transmigrasi sekitar Kota Timika. Penduduk Kamoro memiliki satu bahasa bersama dan berbagi banyak ciri kebudayaan. Tanah Kamoro dimulai dari Teluk Etna di sebelah barat dan menyatu ke arah timur di kawasan Sempan, sebuah kelompok etnis yang masih bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.
Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu.
Kontak pertama antara penduduk Kamoro dan dunia luar kemungkinan terjadi dengan para pedagang dari Indonesia bagian barat yang mencari kulit kayu massoy (banyak digunakan untuk obat tradisional Jawa), bulu burung cenderawasih, getah damar untuk bahan penerangan dan mencari budak. Sebagai alat tukar, digunakan perkakas logam, gong dan kain-kain. Perubahan besar-besaran pada suku Kamoro terjadi pada tahun 1925 ketika sebuah pos pemerintah kolonial Belanda dan misi Katolik Roma didirikan di Kokonau. Maka segera terjadilah pengendalian kekuasaan dan penduduk Kamoro dipaksa/dibujuk untuk meninggalkan beberapa aspek kehidupan adat mereka misalnya upacara tindik hidung (tidak higienis), lalu mereka tinggal dalam kampung-kampung permanen dimana terdapat sekolah-sekolah dan rumah-rumah untuk satu kepala keluarga (lebih mudah dikendalikan), serta pemindahan kepercayaan dari animisme hingga memeluk agama Katolik Roma. Namun, menyusupnya dunia modern tersebut membawa pula segi-segi positif.
kamoro 2Tersembunyi oleh zona bakau yang terkaya dan berlimpah di dunia, masyarakat Kamoro yang sebelumnya menjalani kehidupan yang semi-nomadis (mengembara), memindahkan milik mereka yang tak seberapa antara hutan-hutan pohon sagu (yang dimulai dari kawasan pedalaman terjauh pada zona arus pasang) dan kawasan penangkapan ikan yang amat berlimpah di dekat pantai. Walaupun ada desakan-desakan yang cukup kuat dari dunia luar, masyarakat suku Kamoro tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang semi-nomadis. Banyak sekali alasan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka di desa untuk beberapa hari atau beberapa minggu: akses terhadap basis kekayaan alam yang lebih luas, peluang-peluang untuk bergaul dengan teman dan saudara, tidak perlu tunduk pada perintah-perintah dan kegiatan rutin di desa dan bagi anak-anak, hal ini merupakan liburan yang menyenangkan dan tidak perlu sekolah.
Makanan pokok penduduk Kamoro adalah sagu yang dibuat dengan cara menebang pohon palem sagu, membelah intisari batang pohon dan menghanyutkan bagian sagu/karbohidrat yang murni dari serat-serat selulosa. Sementara hal ini merupakan kerja berat sesaat, namun tidak mengeluarkan tenaga seberat pembudidayaan selanjutnya, yaitu menjadikannya makanan siap-santap, baik dalam bentuk beras, gandum, jagung atau jenis biji-bijian lainnya.
Suku Kamoro juga suka berburu untuk mendapatkan makanan. Jenis hewan yang terutama diburu adalah babi liar, kasuari dan kuskus. Hewan lain termasuk ikan, buaya air tawar dan buaya laut, kadal bakau dan beragam jenis burung baik untuk dikonsumsi telur maupun dagingnya.
Tugas utama kaum wanita adalah menjamin agar ada cukup bahan makanan untuk tiap kali bersantap. Di samping makanan pokok sagu, tiap hari mereka mengayuh perahu lesung untuk mencari kayu bakar, udang dan moluska. Sejumlah besar gastropoda juga dikumpulkan untuk dimakan. Ada cukup banyak jenis krustasea (binatang berkulit keras) yang ditangkap, namun yang terutama adalah kepiting bakau untuk dikonsumsi di rumah serta untuk dijual.
Penduduk Kamoro bukan petani. Walau mereka telah diarahkan selama berpuluh-puluh tahun, makanan dari tumbuh-tumbuhan masih merupakan jumlah kecil bahan pangan mereka.
Sebagaimana halnya di Afrika, Oseania, di antara suku Dayak dan dimanapun, warga Kamoro mampu menghasilkan patung-patung yang sangat mengagumkan, benda-benda seni penuh ekspresi namun dengan garis-garis dan perkakas yang amat sangat sederhana. Jenis kesenian yang demikianlah yang memberi ilham kepada banyak pelukis modern, terutama para penganut aliran kubus dan terutama Pablo Picasso yang lukisan ternamanya Les Demoiselles D'Avignon menampilkan wujud-wujud wanita dengan dua wajahnya seperti topeng-topeng Afrika.
(Redaksi) bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.
Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu. (sumber: lpmak.org)
Tentang Suku Amungme
TOMOHON, Losnito - Suku Amungme adalah bagian dari suku bangsa di Papua yang mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di Agimuga dan kota Timika.
Secara harafiah Amungme terdiri dari dua kata yang memiliki makna berbeda yaitu "amung" yang artinya utama dan "mee" yang artinya manusia, menurut legenda yang diwariskan turun temurun, konon orang Amungme berasal dari derah Pagema (lembah baleim) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata kurima yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang.
Orang Amungme percaya bahwa mereka adalah keturunan pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju abadi yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Orang Amungme berasal dari suku Damal, keluarga besar eogam-e, anak sukunya adalah suku Delem yang hidup di sepanjang sungai Memberamo.
Tingkah laku dan watak orang Amungme identik dengan alamnya, mereka menggangap dirinya penakluk, pengusa serta pewaris alam amungsa dari tangan Nagawan Into (Tuhan). Kerasnya alam pegunungan telah membentuk karakter masyarakat Amungme menjadi keras, non kompromi, fair dan gentlemen serta selalu melakukan tindakan preventif dalam segala aktifitas.
Bahasa daerahnya ada dua yaitu Amung-kal yang digunakan oleh orang Amungme yang hidup disebelah selatan dan Damal-kal untuk orang Amungme yang hidup di sebelah utara, selain itu suku Amungme juga memiliki bahasa simbol yang berbeda dengan bahasa komunikasi sehari-hari yaitu Aro-a-kal adalah jenis bahasa simbol yang paling sulit dimengerti dan dikomunikasikan, serta Tebo-a-kal sebagai jenis bahasa simbol yang hanya diucapkan sewaktu berada di wilayah tertentu yang dianggap keramat.
Konsep mengenai tanah, manusia dan lingkungan alam mempunyai arti yang intergral dalam kehidupan sehari-hari. Tanah digambarkan sebagai figure seorang ibu yang memberi makan, memelihara, mendidik dan membesarkan dari bayi hingga lanjut usia dan akhirnya mati. Tanah dengan lingkungan hidup habitatnya dipandang sebagai tempat tinggal, berkebun, berburu dan pemakaman juga tempat kediaman roh halus dan arwah para leluhur sehingga ada beberapa lokasi tanah seperti gua, gunung, air terjun dan kuburan dianggap sebagai tempat keramat. Magaboarat Negel Jombei-Peibei (tanah leluhur yang sangat mereka hormati, sumber penghidupan mereka), demikian suku Amungme menyebut tanah leluhur tempat tinggal mereka.
Beberapa model kepemimpinan suku Amungme yaitu menagawan, kalwang, dewan adat, wem-wang, dan wem-mum, untuk menjadi pemimpin tidak ditentukan oleh garis keturunan, seorang pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi sosial serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan tradisonal pada tingkat budaya mereka sendiri.
Kontak pertama dengan dunia luar terjadi pada tahun 1936 ketika ekpedisi Carstensz yang pimpinan Dr.Colijn cs, melalui misi katolik pada 1954 yang dipimpin oleh Pastor Michael Cammerer dibantu penduduk lokal bernama Moses Kilangin dan pemerintah Belanda, sebagian besar masyarakat Amungme dipindahkan ke daerah pesisir, di Akimuga sampai saat ini, alasan pemindahan disebabkan proses penyebaran agama dan pelayanan terhadap masyarakat Amungme tidak mungkin dilakukan di daerah pegunungan.
Sebagai warga suku Amungme telah menetap di kota Timika dan sekitaranya karena proses permukiman kembali oleh PT. Freeport Indonesia (PTFI), selain larangan membuka perkampungan di dekat lokasi penambangan menyebabkan mereka bermigrasi ke Timika sebagai alternatif mencari pekerjaan. Penduduk Amungme khususnya yang berasal dari pegunungan Jayawijaya, telah mendapatkan fasilitas perumahan serta lahan perkebunan dari PTFI. Namun banyak pula yang akhirnya memilih tetap tinggal di kampung-kampung di sekitar pertambangan, yakni Kampung Banti, Waa, Tsinga, Arwanop
Umumnya suku Amungme telah menggunakan uang tukar resmi (rupiah) sebagai alat jual-beli, tidak lagi menggunakan sistem barter. Barang-barang yang dijual masih sangat terbatas, seperti: makanan pokok; petatas, keladi, umbi-umbian, minyak goreng, sayur-mayur, alat jahit-menjahit sederhana, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari lainnya seperti garam, sabun dan rokok.
Saat ini budaya barter maupun alat tukar eral sudah tidak pernah lagi digunakan oleh sebagian besar suku Amungme yang tinggal di perkotaan atau berdampingan dengan budaya kota. Berbeda dengan masyarakat suku Amungme yang tinggal di pedalaman bagian Utara, yaitu di daerah pegunungan masih menggunakan eral.
Eral sendiri adalah sistem tukar - menukar barang dengan alat tukar sah yang diakui masyarakat Amungme, berupa kulit bia (siput). Kulit bia ini diperoleh dengan tukar-menukar barang dengan masyarakat yang tinggal di pantai. Setelah kulit bia diperoleh, mereka membawa pulang ke tempat tinggalnya di pedalaman dan membentuknya menjadi alat tukar suku.
Mata pencaharian suku Amungme umumnya berburu karena ditunjang faktor alam dengan berbagai jenis flora yang tumbuh lebat dan terdapat berbagai jenis fauna seperti babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua, dll, bertani dan bercocok tanam serta beternak, banyak di antara mereka telah bekerja di kota sebagai pedagang, pegawai maupun karyawan swasta.(sumber: lpmak.org)
Langganan:
Postingan (Atom)







