Jemput Siswa LPMAK di Bandara Samrat

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengenal Asrama (SMA) Lokon Resort

Asrama ke 4 adalah asrama yang berada di Lokn Resort yang tidak menyatu dengan Kampus Losnito.

Mencicipi Daging Bakar Ala Papua

Daging bakar ini mirip Bakar Batu, tradisi Papua untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau asal Papua.

Jelajah Desa Taratara, Woloan, Kayawu

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Video Siswa Matrikulasi di Taratara

Pengenalan Wilayah, program rutin bagi siswa-siswi Matrikulasi dari LPMAK.Kalai ini desa Wailan, Kayawu, Tara-tara dan Woloan yang dikunjungi.

Jumat, 06 September 2013

Asal Usul Suku Kamoro

Tulisan ini disalin dari tutur kata siswa Matrikulasi yang bercerita tentang asal usul suku Kamoro. Setelah dicek, rupanya cerita itu sama dengan yang disalinulang oleh Stefanus Rahangiar (1995), yaitu salah seorang peneliti yang mengemukakan bahwa orang Kamoro berasal dari komodo yang terletak di sungai Binar di bagian Timur daerah Mimika. 

Cerita ini bermula dari, ditemukannya sebutir telur oleh seorang anak kecil di tepi pantai. Kemudian sianak membawa kerumahnya. Telur tersebut tidak dimasak, tidak juga dirusak, malahan sianak menyimpan dan merawatnya. Selang beberapa hari kemudian telur tersebut menetas. Tetasan tersebut adalah seekor Komodo . Hari kehari, komodo tersebut bertumbuh dan lama-kelaman menjadi besar dan dewasa. Komodo yang besar tersebut, diluar dugaan memakan seluruh penduduk dikampung tersebut, yang tersisa hanya seorang ibu yang tengah hamil. 

Setelah penduduk itu habis dimakan, Komodo itu beristirahat di sebuah pulau dekat Sungai Binar. Pada saat itu, Ibu tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang segera tumbuh menjadi seorang pemuda yang dewasa. Di sini anak tersebut mendengar cerita dari Ibunya tentang kejadian yang menimpa keluarganya. Maka timbul niat dari anak ini untuk balas dendam. Ibu itu bernama Mbirokateya sedangkan anaknya bernama Mbirokateyau. 


Dalam upaya membunuh hewan Komodo, Mbirokateyau mendapat petunjuk dari para leluhurnya lewat mimpi. Mimpi ini mulai dijalankannya dengan mendirikan empat buah rumah berturut-turut, dari arah tepi pantai ke bagian darat. Rumah pertama(Kewa Kame), rumah kedua(Tauri Kame), rumah ketiga(Kaware Kame) dan rumah keempat(Ema Kame). 

Rumah keempat ditempati oleh Ibunya dan rumah pertama ditempati oleh sianak ini sambil memukul tifa dan bernyanyi seakan-akan sedang berpesta. Hal ini dilakukan untuk memberi perhatian kepada Komodo tersebut, yang menyangka bahwa tidak ada manusia lagi disekitarnya. Situasi ini mengundang Komodo ini menyerang rumah tersebut. Saat hewan itu memporak-porandakan rumah, maka peralatan yang digunakan untuk menghujani tubuh hewanlah yang telah menyelamatkan sianak dari rumah kedua sampai rumah keempat, dan akhirnya Komodo ini mati terimpa alat-alat perang.

Kemudian si anak memotong dagingnya menjadi empat bagian dengan ukuran yang sama besar dan melemparkannya ke empat penjuru mata angin. Lemparan pertama kebagian Timur sambil berkata Umuru we yang kemudian dipercaya telah menjadi orang Asmat di Merauke. Lemparan kedua diarahkan kebagian Barat sambil berkata Kamoro we dan akhirnya tercipta manusia suku Kamoro. Lemparan ketiga ke arah Utara yang akhirnya tercipta orang pegunungan dan lemparan keempat diarahkan ke bagian Selatan sambil berkata Semopano we, yang akhirnya menjadi suku Sempan di Timika.

Diceritakan oleh siswa-siswa Matrikulasi SMA Lokon, yaitu Adreanus Onowane, Samuel Kora, Yosep Meraweyau, Angela Amisin. 

Sabtu, 10 Agustus 2013

Rasa Daging Bakar Ala Papua

Proses Pembakaran Daging

TOMOHON, Losnito - Sederhana dan jauh dari cita rasa modern, seperti Fried Chicken atau steak bakar, itulah kesan saya terhadap daging bakar yang dimasak ala Papua Barat. Kali ini saya diajak bukan untuk “bakar batu” atau makan Papeda, kuliner khas Papua. Tetapi saya diajak untuk bakar-bakar di kebun. Katanya ini tradisi mereka untuk sambut warga baru yang masuk dalam komunitas perantau di tahun ajaran baru ini.
Asap putih mulai mengepul ke udara. Bara api bakaran kayu sudah mulai kelihatan. Batang dan rating kayu yang mereka kumpulkan mulai dibakar. Sementara yang beli bahan makanan belum datang, milu (jagung) mulai ditaruh di atas ranting di antara semburat api kayu itu. Tanpa mengupas pelepahnya jagung langsung ditaruh begitu saja di antara perapian yang membara.

Di sekitar pembakaran itu, saya hitung ada 30 siswa Papua. Tak semua sibuk “memasak” di dekat pembakaran. Ada yang berteduh di semak-semak dan pohon perdu berlindung dari sengatan matahari pagi. Saya sempat bertanya, mengapa yang perempuan tak ikut memasak sepertinya itu tugas laki-laki. Samuael Kora menjawab, “Itu tradisi kami Pak. Laki-laki yang cari kayu bakar dan bikin api dan sekaligus bertugas memasaknya. Perempuan biasanya kasih bersih itu makanan sebelum dibakar”.

Metin Tsunawatme dan satu temannya datang membawa bahan-bahan yang dibakar. Saya lihat dia bawa daging babi, empat ekor ayam, kentang, dan ubi-ubian seperti ketela pohon, ubi jalar dan ubi talas keladi. Tak lama kemudian temannya memotong-motong daging itu dan mengupas ayam hingga bersih. Setelah diserahkan ke teman perempuan untuk dibersihkan di sungai terdekat. Bumbu termasuk rica-rica dimasukkan di bekas botol mineral lalu ditumbuk.

Jarum jam beranjak menuju ke angka dua belas. Satu lagi perabian dibuat. Perapian ini khusus untuk membakar daging ayam dan babi. Mereka buat dengan sederhana. Kayu-kayu yang masih basah dipasang di atas perapian membentuk alat pemanggang. Di atas kayu basah itu semua daging ditaruh dan di bawahnya perapian terus dijaga hingga membara.
Untuk mempercepat proses matang, daging-daging yang sementara dibakar di atas bara, diolesi dengan mentega. Sesekali saya melihat Metin mengusapnya dengan bumbu yang dibuat. Tak beberpa lama dari proses itu, daging bakar sudah siap disajikan.

Proses penyajiannya menurut saya unik. Mereka berteriak dengan bahasa yang tidak saya mengerti tetapi saya pahami sebagai tanda untuk berkumpul dan mendekat dengan daging dan ubi yang sudah siap dimasak. Lalu mereka disuruh berkelompok, makanan nanti dibagi berdasarkan kelompok secara merata.

Mereka menyuruh saya untuk memimpin doa makan. Saya iyakan saja. Setelah doa, makanan dibagi dan mereka menyantapnya sesuai dengan yang sudah dibagi. Uniknya tak ada kelompok yang protes karena makanan yang kurang. Dalam hal makan mereka tidak saling berebut.
Saya dan teman pembina juga mendapat jatah makan yang lumayan besar porsinya. Dua potong ubi keladi, dua jagung bakar, dan setengah potong daging ayam utuh dan masing-masing segelas air mineral untuk minum.

Bagaimana rasa daging bakar itu? Rasanya adalah sederhana tetapi rasa paguyubannya, serta persaudaraan di antara mereka di tanah rantau, cukup membanggakan. Begitulah sebuah kearifan lokal yang terus disemai di mana pun mereka berada. Karena itu jangan heran kalau mereka suka makan pinang. Katanya buat gigi kuat dan menyembuhkan sakit gigi.


Semua bahan makanan dan minuman mereka beli dengan model “baku sumbang”. Siang itu mereka habiskan 7 kg daging babi, 4 ekor ayam, dua dus aqua gelas, satu karung jagung dan satu karung ubi-ubian, dan setengah botol bumbu rica.

Minggu, 04 Agustus 2013

Tentang Suku Kamoro

 TOMOHON, Losnito - Suku Kamoro adalah kelompok adat yang mendiami sepanjang 300 km pesisir selatan Papua, di kawasan ujung timur Indonesia. Dari segi bahasa, mereka bersaudara dengan suku Asmat  yang tinggal di sebelah timur yang sangat terkenal karena kesenian mereka.

Jumlah penduduk Kamoro sekitar 18.000 jiwa  terbagi dalam kurang lebih 40 kampung. Sekitar 1.500 penduduk Kamoro tinggal di berbagai lokasi transmigrasi sekitar Kota Timika. Penduduk Kamoro memiliki satu bahasa bersama dan berbagi banyak ciri kebudayaan. Tanah Kamoro dimulai dari Teluk Etna di sebelah barat dan menyatu ke arah timur di kawasan Sempan, sebuah kelompok etnis yang masih bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.

Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu.

Kontak pertama antara penduduk Kamoro dan dunia luar kemungkinan terjadi dengan para pedagang dari Indonesia bagian barat yang mencari kulit kayu massoy (banyak digunakan untuk obat tradisional Jawa), bulu burung cenderawasih, getah damar untuk bahan penerangan dan mencari budak. Sebagai alat tukar, digunakan perkakas logam, gong dan kain-kain. Perubahan besar-besaran pada suku Kamoro terjadi pada tahun 1925 ketika sebuah pos pemerintah kolonial Belanda dan misi Katolik Roma didirikan di Kokonau. Maka segera terjadilah pengendalian kekuasaan dan penduduk Kamoro dipaksa/dibujuk untuk meninggalkan beberapa aspek kehidupan adat mereka misalnya upacara tindik hidung (tidak higienis), lalu mereka tinggal dalam kampung-kampung permanen dimana terdapat sekolah-sekolah dan rumah-rumah untuk satu kepala keluarga (lebih mudah dikendalikan), serta pemindahan kepercayaan dari animisme hingga memeluk agama Katolik Roma. Namun, menyusupnya dunia modern tersebut membawa pula segi-segi positif.

kamoro 2Tersembunyi oleh zona bakau yang terkaya dan berlimpah di dunia, masyarakat Kamoro yang sebelumnya menjalani kehidupan yang semi-nomadis (mengembara), memindahkan milik mereka yang tak seberapa antara hutan-hutan pohon sagu (yang dimulai dari kawasan pedalaman terjauh pada zona arus pasang) dan kawasan penangkapan ikan yang amat berlimpah di dekat pantai. Walaupun ada desakan-desakan yang cukup kuat dari dunia luar, masyarakat suku Kamoro tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang semi-nomadis. Banyak sekali alasan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka di desa untuk beberapa hari atau beberapa minggu: akses terhadap basis kekayaan alam yang lebih luas, peluang-peluang untuk bergaul dengan teman dan saudara, tidak perlu tunduk pada perintah-perintah dan kegiatan rutin di desa dan bagi anak-anak, hal ini merupakan liburan yang menyenangkan dan tidak perlu sekolah.

Makanan pokok penduduk Kamoro adalah sagu yang dibuat dengan cara menebang pohon palem sagu, membelah intisari batang pohon dan menghanyutkan bagian sagu/karbohidrat yang murni dari serat-serat selulosa. Sementara hal ini merupakan kerja berat sesaat, namun tidak mengeluarkan tenaga seberat pembudidayaan selanjutnya, yaitu menjadikannya makanan siap-santap, baik dalam bentuk beras, gandum, jagung atau jenis biji-bijian lainnya.

Suku Kamoro juga suka berburu untuk mendapatkan makanan. Jenis hewan yang terutama diburu adalah babi liar, kasuari dan kuskus. Hewan lain termasuk ikan, buaya air tawar dan buaya laut, kadal bakau dan beragam jenis burung baik untuk dikonsumsi telur maupun dagingnya.

Tugas utama kaum wanita adalah menjamin agar ada cukup bahan makanan untuk tiap kali bersantap. Di samping makanan pokok sagu, tiap hari mereka mengayuh perahu lesung  untuk mencari kayu bakar, udang dan moluska. Sejumlah besar gastropoda juga dikumpulkan untuk dimakan. Ada cukup banyak jenis krustasea (binatang berkulit keras) yang ditangkap, namun yang terutama adalah kepiting bakau untuk dikonsumsi di rumah serta untuk dijual.

Penduduk Kamoro bukan petani. Walau mereka telah diarahkan selama berpuluh-puluh tahun, makanan dari tumbuh-tumbuhan masih merupakan jumlah kecil bahan pangan mereka.

Sebagaimana halnya di Afrika, Oseania, di antara suku Dayak dan dimanapun, warga Kamoro mampu menghasilkan patung-patung yang sangat mengagumkan, benda-benda seni penuh ekspresi namun dengan garis-garis dan perkakas yang amat sangat sederhana. Jenis kesenian yang demikianlah yang memberi ilham kepada banyak pelukis modern, terutama para penganut aliran kubus dan terutama Pablo Picasso yang lukisan ternamanya Les Demoiselles D'Avignon menampilkan wujud-wujud wanita dengan dua wajahnya seperti topeng-topeng Afrika.

(Redaksi) bersaudara, dan yang juga turut berpartisipasi dalam acara tahunan Festival Kamoro. Tanah Sempan berbatasan dengan daerah Asmat. Ketiga kelompok etnis tersebut membentuk keluarga bahasa Kamoro-Asmat dan berbagi beberapa ciri kebudayaan seperti misalnya bitoro suku Kamoro dan bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.

Menuju arah barat tanah Kamoro, membentang rangkaian pegunungan Papua tengah mendekati daerah pesisir, dengan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dekat Laut Arafura. Kampung-kampung di lokasi ini adalah kampung pesisir. Deretan pohon sagu yang amat luas berawal di batas teratas daerah dampak arus pasang. Keadaan ini memungkinkan tersedianya makanan pokok bagi penduduk Kamoro di dekat kampung-kampung yang menghadap ke arah pedalaman. Bagi kampung pesisir, para penduduk menggunakan perahu-perahu lesung untuk menjangkau kawasan pohon sagu. (sumber: lpmak.org)

Tentang Suku Amungme


TOMOHON, Losnito - Suku Amungme adalah bagian dari suku bangsa di Papua yang mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di Agimuga dan kota Timika.

Secara harafiah Amungme terdiri dari dua kata yang memiliki makna berbeda yaitu "amung" yang artinya utama dan "mee" yang artinya manusia, menurut legenda yang diwariskan turun temurun, konon orang Amungme berasal dari derah Pagema (lembah baleim) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata kurima yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang.

Orang Amungme percaya bahwa mereka adalah keturunan pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju abadi yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Orang Amungme berasal dari suku Damal, keluarga besar eogam-e, anak sukunya adalah suku Delem yang hidup di sepanjang sungai Memberamo.

Tingkah laku dan watak orang Amungme identik dengan alamnya, mereka menggangap dirinya penakluk, pengusa serta pewaris alam amungsa dari tangan Nagawan Into (Tuhan). Kerasnya alam pegunungan telah membentuk karakter masyarakat Amungme menjadi keras, non kompromi, fair dan gentlemen serta selalu melakukan tindakan preventif dalam segala aktifitas.

Bahasa daerahnya ada dua yaitu Amung-kal yang digunakan oleh orang Amungme yang hidup disebelah selatan dan Damal-kal untuk orang Amungme yang hidup di sebelah utara, selain itu suku Amungme juga memiliki bahasa simbol yang berbeda dengan bahasa komunikasi sehari-hari yaitu Aro-a-kal adalah jenis bahasa simbol yang paling sulit dimengerti dan dikomunikasikan, serta Tebo-a-kal sebagai jenis bahasa simbol yang hanya diucapkan sewaktu berada di wilayah tertentu yang dianggap keramat.

Konsep mengenai tanah, manusia dan lingkungan alam mempunyai arti yang intergral dalam kehidupan sehari-hari. Tanah digambarkan sebagai figure seorang ibu yang memberi makan, memelihara, mendidik dan membesarkan dari bayi hingga lanjut usia dan akhirnya mati. Tanah dengan lingkungan hidup habitatnya dipandang sebagai tempat tinggal, berkebun, berburu dan pemakaman juga tempat kediaman roh halus dan arwah para leluhur sehingga ada beberapa lokasi tanah seperti gua, gunung, air terjun dan kuburan dianggap sebagai tempat keramat. Magaboarat Negel Jombei-Peibei (tanah leluhur yang sangat mereka hormati, sumber penghidupan mereka), demikian suku Amungme menyebut tanah leluhur tempat tinggal mereka.

Beberapa model kepemimpinan suku Amungme yaitu menagawan, kalwang, dewan adat, wem-wang, dan wem-mum, untuk menjadi pemimpin tidak ditentukan oleh garis keturunan, seorang pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi sosial serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan tradisonal pada tingkat budaya mereka sendiri.


Kontak pertama dengan dunia luar terjadi pada tahun 1936 ketika ekpedisi Carstensz yang pimpinan Dr.Colijn cs, melalui misi katolik pada 1954 yang dipimpin oleh Pastor Michael Cammerer dibantu penduduk lokal bernama Moses Kilangin dan pemerintah Belanda, sebagian besar masyarakat Amungme dipindahkan ke daerah pesisir, di Akimuga sampai saat ini, alasan pemindahan disebabkan proses penyebaran agama dan pelayanan terhadap masyarakat Amungme tidak mungkin dilakukan di daerah pegunungan.

Sebagai warga suku Amungme telah menetap di kota Timika dan sekitaranya karena proses permukiman kembali oleh PT. Freeport Indonesia (PTFI), selain larangan membuka perkampungan di dekat lokasi penambangan menyebabkan mereka bermigrasi ke Timika sebagai alternatif mencari pekerjaan. Penduduk Amungme khususnya yang berasal dari pegunungan Jayawijaya, telah mendapatkan fasilitas perumahan serta lahan perkebunan dari PTFI. Namun banyak pula yang akhirnya memilih tetap tinggal di kampung-kampung di sekitar pertambangan, yakni Kampung Banti, Waa, Tsinga, Arwanop

Umumnya suku Amungme telah menggunakan uang tukar resmi (rupiah) sebagai alat jual-beli, tidak lagi menggunakan sistem barter. Barang-barang yang dijual masih sangat terbatas, seperti: makanan pokok; petatas, keladi, umbi-umbian, minyak goreng, sayur-mayur, alat jahit-menjahit sederhana, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari lainnya seperti garam, sabun dan rokok.

Saat ini budaya barter maupun alat tukar eral sudah tidak pernah lagi digunakan oleh sebagian besar suku Amungme yang tinggal di perkotaan atau berdampingan dengan budaya kota. Berbeda dengan masyarakat suku Amungme yang tinggal di pedalaman bagian Utara, yaitu di daerah pegunungan masih menggunakan eral.

Eral sendiri adalah sistem tukar - menukar barang dengan alat tukar sah yang diakui masyarakat Amungme, berupa kulit bia (siput). Kulit bia ini diperoleh dengan tukar-menukar barang dengan masyarakat yang tinggal di pantai. Setelah kulit bia diperoleh, mereka membawa pulang ke tempat tinggalnya di pedalaman dan membentuknya menjadi alat tukar suku.

Mata pencaharian suku Amungme umumnya berburu karena ditunjang faktor alam dengan berbagai jenis flora yang tumbuh lebat dan terdapat berbagai jenis fauna seperti babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua, dll, bertani dan bercocok tanam serta beternak, banyak di antara mereka telah bekerja di kota sebagai pedagang, pegawai maupun karyawan swasta.(sumber: lpmak.org)

Jumat, 02 Agustus 2013

Video Siswa Matrikulasi di Taratara

Siswa Matrikulasi Menelusuri Desa-desa



Jumat pagi (1/8), semua siswa SMA Lokon berbaris membentuk formasi huruf U. Pembina Apel pagi ini disampaikan oleh Wakasek Kesiswaan. Salah satu informasi ditujukan bagi siswa-siswi Matrikulasi.

"Hari ini ada acara pengenalan wilayah buat mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk memumpuk rasa memiliki dengan cara berjalan kaki menelusuri jalan mulai dari Kampus lalu menuju ke Wailan, tembus ke Tara-tara dan kemudian menuju ke Woloan dan dari Woloan lalu ke Kakaskasen dan kembali ke kampus Losnito"


Informasi disambut dengan sukacita oleh ke 19 siswa (satu ada yang sakit) Matrikulasi yang datang dari LPMAK Timika dan YPJ Tembagapura. Mereka adalah siswa-siswi penerima bea siswa dari Freeport.





Start dimulai dari depan Lobby. Para siswa di dampingi oleh Pak Eldad Tambun, Pak Stephanus Poluan, Pak Angelo Pontoh, Pak Nouvry Mokuan, Pak Hanny Tuerah, Pak Karel Konjongian dan Pak Tri Nugroho (Pembina Asrama Lokon Resort).

Sebelum mulai melangkahkan kaki menuju ke kampung-kampung terdekat, diadakan foto bersama di muka pintu gerbang. Tulisan SMA Lokon St. Nikolaus menjadi background foto bersama.



Tampak para siswa memanfaatkan untuk foto-foto melalui HP di sepanjang perjalanan. Ketika ada objek foto yang menarik, flash kamera tak hentinya menyala. Kenangan jalan-jalan masuk ke kampung menjadi bukti tersendiri.

"Selamat pagi Pak, Selamat pagi bu. Selamat pagi adek" adalah suara-suara yang meluncur begitu biasa untuk menyapa masyarakat. Sepanjang perjalanan selain keceriaan tanpa lelah, para siswa mencoba mempratekkan semboyan 5 S. Yaitu, Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Satun kepada siapa saja yang dijumpai.

Budaya Lima S ini adalah budaya yang dikembangkan dalam mewujudnyatakan Kurikulum Berbasis Kehidupan.


Langkah kaki para siswa dan pendamping sudah melewati desa Wailan dan kini menuju ke Kayawu. Sejenak mereka berhenti di patung tokoh Lokon. Dengan gayanya yang khas masyarakat Papua, mereka beraksi di depan kamera yang dipegang oleh Pak Tri. Seru. Di sebelah jalan dari patun ini terdapat Gua Jepang. Sayang kami tidak diperbolehkan masuk karena sedang ada pengerjaan renovasi.

Memasuki desa Taratara, kendatangan rombongan kami sempah membuah heboh seluruh SD Negeri. Mereka berlarian keluar "seolah-olah" menyambut kedatangan kami dengan teriakan sukacita. Beberapa siswa tak kalah menanggapi sambutan anak-anak SD dengan tangan "toast" satu sama lain. Keramahan dan keriuhan itu tak luput dari jepretan kamera dan video. Untuk melihat videonya silahkan KLIK DI SINI.


"Hosha-hosha" terdengar suara dari pendamping yang artinya capek nih. Lalu kami istirahat di Gerea St, Padua Tara-tara untuk beberapa menit menghilang capek kami.

"Setelah ini kita jalan ke mana?" tanya Andre, salah siswa yang bertubuh kecil tapi lincah. "Belok kanan lalu ke atas ke desa Woloan" jawab pak Eldad. Setelah itu, Pak Eldad menghubungi driver sekolah supaya makan siang di antar di Pastoran Gereja Bunda Hati Kudus Woloan.

Dari Taratara menuju ke Woloan diwarnai dengan trekking yang menantang. Selepan jembatan kecil, jalan terus menanjak melewati persawahan yang indah. Suasana persawahan yang hijau menghibur hati dari kelelahan yang mulai lagi menggantung di kaki. Tapi para siswa ketika ditanya "capek nggak", selalu jawab "ah tidak Bapa".


Akhirnya kami tiba di pastoran Woloan. Kaki-kaki mulai dilemaskan dengan cara duduk dan kaki diselonjorkan dengan gerakan-gerakan kecil untuk melemaskan otot-otot. Tak lama kemudian makan siang tiba. Dan kami pun menyantapnya dengan lahap.



Setelah makan siang, jalan kaki dilanjutkan menuju ke arah jalan turun yang tembus ke Kayawu dan akhirnya satu bus menjemputnya dan kembali ke asrama Lokon dan asrama Lokon Resort.

Senin, 29 Juli 2013

Pengurus Asrama Lokon Resting


Senin, 29 Juli 2013, pukul 21.30 diadakan pemilihan pengurus siswa-siswa yang berada di asrama Lokon Resting.

Jumlah pemilih 39 orang, dengan catatan satu orang kembali ke Tembagapura karena kakaknya telah dipanggil Tuhan.

Hasil pemilihan sebagai berikut:
  1. Iko : 8 suara (Ketua)
  2. Hendy Jamang : 7 suara (Wakil)
  3. Molio : 6 suara
  4. Lenis : 6 suara

Pengurus Asrama Lokon Resort 2013

Ketua : Iko IB
Wakil : Hendy Jamang
Sekretaris : Moliu Mom
Bendahara : Lenis Jawame

  • Seksi Kerohanian: Otto Tsunme
  • Seksi Kebersihan : Elianus Bubaleng
  • Seksi Konsumsi : Metin Tsenawame
  • Seksi Kesehatan : Andreas Onoame
  • Seksi Olahraga : Natan Omabak
  • Seksi Saranaprasarana; Tommi Magal
Kamar 1
  1. Thomy Magal (Tutor)
  2. Apriton Komangal
  3. Otto Tsunme
  4. Jhony Kibak
  5. Christian Balinol
  6. Emanuel Pogolamun
 Kamar 2
  1. Amianus Tsugumol (Tutor)
  2. Yosias Jangkup 
  3. Elianus Kiwak
  4. Melianus J. M
  5. Thomy Diwitau
Kamar 3
  1. Nopinus Magal (Tutor)
  2. Samuel Rommy Koro
  3. Andreanus Onawame
  4. Hengky R Omabak
  5. Kornelius Beanal
Kamar 4
  1. Iko Charles B Wamang (Tutor)
  2. Samuel M Pigai
  3. Yosep Meraweyau
  4. Edgard Magal
  5. Dominikus Feneturuma
 Kamar 5
  1. Metin Tsenawatme (Tutor)
  2. Beni Beanal
  3. Kertinus Bukaleng
  4. Lenniz Yau
  5. Elianus Bukaleng
  6. Freddy Beanal
Kamar 6
  1. Yohanes Mipitepo (Tutor)
  2. Natan Omabak
  3. Perimus Omaleng
  4. Jerinus Beanal
  5. Natanael Natkime
  6. Felix Weyau
Kamar 7
  1. Hendy Jamang (Tutor)
  2. Molio Mom
  3. Socrates Fatih
  4. Alexander Manueti
 Tomohon, 1 Agustus 2013